Sabtu, 30 April 2011

kesedihan

Siapa yang tak pernah merasakan kesedihan?
Tentu tidak akan ada orang yang akan mengacungkan tangannya. Jika pun ia tidak pernah memperlihatkannya di khalayak ramai, tentulah di kala dia sedang sendiri, ia pasti pernah merasakan kesedihan.

Kesedihan itu datang ketika kita gagal mendapatkan sesuatu yang sangat kita inginkan.
Kesedihan itu dirasakan ketika kita kehilangan seseorang atau sesuatu yang kita cintai.
Kesedihan itu melingkupi ketika kita berpisah dari orang atau benda yang kita sayangi.

Kesedihan bukanlah kesedihan itu sendiri.
Sebab tak semua sedih adalah kesedihan yang sebenarnya.
Mungkin saat kesedihan itu terjadi, kita mengganggapnya adalah sesuatu yang menghancurkan hati. Namun setelah beberapa saat, kesedihan itu tidak lagi harus ditangisi, malah dirayakan dengan tawa bahagia.

Tak semua kesedihan dapat hilang di sekedipan mata. Tak semua juga yang mampu diterima dalam waktu yang singkat. Akupun bisa berkata demikian setelah bertahun mencoba menengahi hati agar mampu menerima ini sebagai
sesuatu yang biasa, seperti halnya kebahagiaan.

Jika kau mampu menerimanya dengan hati yang terbuka luas, maka kesedihan hanyalah serapuh tawa. Yang mudah datang dan pergi. Kesedihan itu ada kalanya datang karena diundang dan suatu saat memang terjadi tanpa direncana.

Konyol memang. Bersedih untuk sesuatu yang tak pantas. Yang mungkin kala ini tengah membagi hangat senyumannya di belahan bumi lain.

Tapi rasa terima kasih menggenapi hati. Bahwa kesedihan ini adalah sesuatu yang membuatku belajar menerima dengan lapang. Bahwa tak semua hal yang aku inginkan wajib aku dapatkan
“Kesedihan itu timbul karena diri kita sendiri” Pikiran kitalah yang membuat kita berada dalam kesedihan.
Cobalah renungkan arti kalimat itu. Bila kamu bisa menemukan jawaban dari kalimat tersebut,
kamu akan berada setingkat lebih dewasa dalam berfikir, lebih bijaksana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar