Jumat, 02 Desember 2016

Menitik Hati



Pernah aku terbangun dalam keadaan gamang, karna harapanku terlalu tinggi padamu.

Pernah aku seolah ingin tertidur selalu, karna tak ingin terbangunkan dari mimpi, mimpi tentangmu.

Namun, aku terbangun aku tak mati mungkin hanya cerita tentangmu yang sekarang sedang coba kulawan, coba ku akhiri. 

Pikiranku melayang mencoba membencimu, melawan hawa nafsuku yang seolah tidak pernah menuruti majikannya.

Aku terlalu mengabaikan Logika ku, hingga mencacati seluruh indera yang Tuhan berikan padaku.

Telinga ku Tuli untuk mendengar nasehat dan bisikan dari orang orang terkasihku.

Mata ku Buta untuk melihat dari sikap yang selalu kau tunjukan padaku.

Hati ku Kebas sehingga sentuhan sentuhan perih yang kau berikan seakan tiada rasa.

Mulut ku Bisu hingga begitu takut untuk menanyakan apa yang sebenarnya sedang ku alami.

Pengabaian terhadap logika ku, merusak seluruh indera ku seakan akan semua yang ada padamu berubah menjadi sesuatu yang positif hingga menyeretku kedalam suatu tempat yang aku tidak tahu apa namanya, kemudian kau mengikatku sehingga aku sulit untuk keluar dan membiarkan aku mati didalamnya setelah itu pun kau masih membawakan segerombolan burung bangkai untuk memakan habis semuanya bahkan sampai harapanku padamu yang kau selalu abaikan.

Apakah itu sungguh Kamu?

Kamu yang selalu aku sanjung di depan Tuhan ku?

Apa kau sungguh memilih untuk pergi? Jika iya, Apakah kau pergi dengan air mata atau tawa puas mu?

Sungguh jika memang itu yang terjadi saat ini, aku tak akan pernah membencimu karena kebencian ku padamu hanya akan mengotori hatiku yang sesungguhnya adalah taman penumbuh untuk doa doa ku yang akan selalu mendoakan kebahagiaanmu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar